Rabu, 28 September 2011

PENGGUNAAN ICT DALAM MENDUKUNG PEMBELAJARAN BERBASIS INKUIRI, KOOPERATIF DAN INDIVIDUAL




PENDAHULUAN
           
            Menurut Zaini model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. 
            Dengan pemilihan metode, strategi, pendekatan, serta teknik pembelajaran, diharapkan adanya perubahan dari mengingat (memorizing) atau menghafal (rote learning) ke arah berpikir (thinking) dan pemahaman (understanding), dari model ceramah ke pendekatan discovery learning atau inquiry learning, dari belajar individual ke kooperatif, serta dari subject centered ke learner centered atau terkonstruksinya pengetahuan siswa.
            Perkembangan di bidang Information and Comunication technology (ICT) saat ini sangat pesat dan berpengaruh sangat signifikan terhadap pribadi maupun komunitas, segala aktivitas, kehidupan, cara kerja, metode belajar, gaya hidup maupun cara berpikir. Oleh karena itu, pemanfaatan ICT harus diperkenalkan kepada siswa agar mereka mempunyai bekal pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk bisa menerapkan dan menggunakannya dalam kegiatan belajar, bekerja serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari, bahkan bisa juga dikembangkan menjadi kegiatan wira usaha.
            Manusia secara berkelanjutan membutuhkan pemahaman dan pengalaman agar bisa memanfaatkan ICT secara optimal dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman dan menyadari implikasinya bagi pribadi maupun masyarakat. Siswa yang telah mengikuti dan memahami serta mempraktekkan ICT akan memiliki kapasitas dan kepercayaan diri untuk memahami berbagai ICT dan menggunakannya secara efektif. Selain dampak positif, siswa mampu memahami dampak negatif, dan keterbatasan ICT, serta mampu memanfaatkan ICT untuk mendukung proses pembelajaran dan memanfatkannya dalam kehidupan sehari-hari.
            Dengan semakin banyaknya situs pertemanan seperti facebook, twitter, friendster, dan myspace membuat komunikasi dan saling bertukar informasi semakin mudah. Belum lagi semakin menjamurnya tempat membuat blog gratis di internet seperti wordpress, blogspot, livejurnal, dan multiply. Membuat kita dituntut bukan hanya mampu mencari dan memanfaatkan informasi saja, tetapi juga mampu menciptakan informasi di internet melalui blog yang kita kelola dan terupdate dengan baik. Di sanalah muncul kreativitas menulis yang membuat orang lain mendapatkan manfaat dari tulisan yang kita buat. Namun sayangnya, kebiasaan menulis dan membaca belum menjadi budaya masyarakat Indonesia, termasuk guru dan siswa di sekolah. Para guru ICT dituntut agar para peserta didiknya mampu memanfaatkan ICT untuk mengembangkan kreativitas menulis.
Pendidikan sebagai pondasi pembangunan suatu bangsa memerlukan pembahuruan-pembaharuan sesuai dengan tuntutan zaman. Keberhasilan dalam pendidikan selalu berhubungan erat dengan kemajuan suatu bangsa yang berdampak meningkatnya kesejahteraan kehidupan masyarakat. Pada era teknologi tinggi (high technology) perkembangan dan transformasi ilmu berjalan begitu cepat. Akibatnya, sistem pendidikan konvensional tidak akan mampu lagi mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Pendekatan-pendekatan modern dalam proses pengajaran tidak akan banyak membantu untuk mengejar perkembangan ilmu dan teknologi jika sistem pendidikan masih dilakukan secara konvensional.
            Keperluan akan penguasaan ICT telah diantisipasi oleh pemerintah dalam hal ini oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dengan dimasukkannya kurikulum ICT dalam kurikulum 2004 dan sekarang Kurikulum Tingkat Satuan  Pendidikan (KTSP) mulai dari pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi. Diharapkan dengan diimplementasikannya kurikulum ICT ini akan meningkatkan kualitas proses pengajaran, kualitas penilaian kemajuan siswa, dan kualitas administrasi sekolah.
            Adanya manajemen berbasis sekolah memungkinkan setiap sekolah untuk mengembangkan dan mengaplikasikan ICT yang disesuaikan dengan tuntuntan zaman dan kemampuan/daya dukung sekolah yang bersangkutan. Munculnya berbagai hardware dan software-software baru sekarang ini sangat  membantu guru dalam menyampaikan bahan ajarnya. Permasalahannya adalah, apakah para guru yang merupakan garda terdepan di sekolah telah memanfaatkan ICT dengan optimal. Dan bagaimanakah mengaplikasikan ICT dalam pembelajaran di sekolah.






A.    Pemanfaatan ICT dalam Model Pembelajaran Inkuiri

Kata inkuiri berasal dari bahasa inggris yaitu inquiry yang berarti pertanyaan atau penyelidikan. Metode pembelajaran inkiri ini di kembangkan pertama kali oleh Richard Suchman pada tahun 1962. Awalnya ia menginginkan agar siswa-siswanya aktif bertanya tentang mengapa suatu peristiwa itu terjadi. Kemudian ia mengajarkan pada siswanya tersebut mengenai prosedur dan menggunakan organisasi pengetahuan dan prinsip-prinsip umum. Dilanjutkan siswa melakukan kegiatan, mengumpulkan serta menganalisa data, sampai akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.
Pembelajaran berbasis inkuiri dilakukan dengan lima tahapan, yaitu :
1.      Penyajian masalahatau mengahadapkan siswa pada pemrmasalahan.
Pada tahap ini guru menyatakan situasi masalah dan menjelaskan prosedur inkuiri kepada siswa.
2.      Pengumpulan dan verivikasi data.
Tahap ini siswa mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang mereka lihat atau alami, dan kemudian membuktikannya.
3.      Eksperimen dan mengumpulkan data.
Pada tahap ini siswa melakukan eksperimen yang mempunyai dua fungsi yaitu eksplorasi dan pengujian langsung.
Eksplorasi berarti mengubah sesuatu untuk melihat apakah yang akan terjadi, dan tidak memerlukan suatu teoriatau hipotesis tetapi boleh menggunakan ide-ide untuk terjdinya suatu teori. Sedangkan pengujian langsung berlaku ketika siswa menguji coba suatu tori atau hipotesis.
4.      Merumuskan penjelasan.
Tahap ini seorang guru mengajak siswanya untuk mengolah data dan merumuskan suatu penjelasan. Beberapa diantara siswa akan menemui kesulitan dalam mengemukakan informasi yang mereka peroleh untuk memberikan uraian yang jelas. Mereka dapat memberikan penjelasan yang tidak mendetail.
5.      Tahapan terakhir yaitu mengadakan analisis tentang proses inkuiri.
Pada tahap kelima ini siswa diminta untuk menganalisis pola-pola penemuan mere. Siswa boleh menentukan pertanyaan yang lebih efektif, pertanyaan yang produktif, ataupun yang tidak. Atau tipe informasi yang mereka butuhkan dan yang tidak diperoleh.

Tujuan umum dari pembelajaran berbasis inkuiri ini adalah untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir intelektual seperti mengajukan pertanyaan dan keterampilan menemukan jawaban yang berawal dari keingin tahuan mereka.
Pembelajaran berbasis inkuiri melibatkan siswa terlibat secara mental maupun fisik unutuk memecahkan permasalahan yang diberikan oleh guru. Keterlibatan dalam pembelajaran mengandung makana proses kemampuan dan sikap yang member kesempatan untuk mencari pemecahan pada pertanyaan-pertanyaan dan isu-isu ketika membangun pengetahuan baru.   Dengan demikian siswa akan terbiasa bersikap seperti sikap ilmuan sains yang selalu ingin tahu, teliti, tekun, dan kreatif. Pembelajaran berbasis inkuiri memberikan banyak menfaat yang banyak bagi siswa, diantaranya :
1.      Pendekatan inkuiri meningkatkan potensi intelektual siswa. Hal ini dikarenakan siswa diberikan kesempatan untuk mencari dan menentukan keteraturan hal-hal yang berhuungan dengan pengamatan dan pengalaman sendiri.
2.      Siswa memperoleh suatu kepuasan intelektual yang dating dari dalam karena berhasil dalam penemuannya.
3.      Siswa dapat belajar bagaimana melakukan penemuan, hanya melaluai proses melakukan penemuan itu sendiri.
4.      Belajar berbasis inkuiri memperpanjang proses ingatan atau dengan kata lain, hal-hal yang dipelajari melalui inkuiri lebih lama dapat diingat.
Manfaat-manfaat dari pembelajaran berbasis inkuiri ini dapat lebih dimaksimalkan lagi. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan pengguanaan ICT (Information and  Comunication Technology).
Berbagai jenis ICT dapat dimanfaaatkan guru dalam pembelajaran di kelas.  Guru memiliki peran penting dalam memilih ICT yang tepat dalam pembelajaran. Tetapi sering kali guru menggunakan ICT hanya sebagai pendukung atau pelengkap ketika mengadakan ulangan/praktik di kelas umum, daripada menggunakan  sebagai alat yang memungkinkan merancang isi, tujuan, kegiatan, dan pendekatan pedagogis itu sendiri .
Secara umum disepakati bahwa pendidikan ICT harus dipilih dengan menyesuaikan manfaat dan relevansi dalam pembelajaran  tertentu, dan bukan hanya menarik secara visual belaka. Dari konsep ini  penilaian dan seleksi sumber daya teknologi pendidikan harus perlu dilakukan agar benar-benar mendukung keberhasilan pembelajaran.
Terdapat banyak sekali perangkat ICT di sekiar kita, diantaranya computer (PC), printer, LCD projector, internet, intranet, televise, radio, handphone. Selain hardware, ICT juga mencakup perangkat software atau perangkat lunak seprti Operating System (OS), aplikasi, ataupun konten.
Perangkat lunak yang dapat dipertimbangkan untuk digunakan dalam pembelajaran antara lain :
1.      Software yang memungkinkan guru untuk merancang tugas interaktif
Dengan menggunakan aplikasi ini,  guru dapat membuat berbagai jenis tugas dan latihan: pilihan ganda,  isian rumpang, teka-teki silang, pertanyaan yang cocok dengan jawaban, dan lain-lain. Tujuan dari latihan ini adalah bahwa siswa mengasosiasikan sebuah jawaban yang benar untuk pertanyaan tertentu. Untuk dapat  menemukan jawaban yang benar dari pertanyaan tidak berarti memahami secara mendalam beberapa konsep atau model. Software ini tepat untuk pembelajaran yang hanya menuntut siswa untuk mampu menghafal.
2.      Software untuk mewakili dan mengatur pengetahuan
Meskipun perangkat lunak semacam ini tidak secara khusus dirancang untuk mengajar dan belajar ilmu pengetahuan, tetapi dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran. Program aplikasi  ini  berguna untuk mendukung pemahaman dan pembelajaran. Aplikasi ini dapat membantu siswa untuk menyadari struktur pengetahuan mereka sendiri, yang memungkinkan mereka untuk membangun hubungan antara sumber informasi yang berbeda. Tujuan ini dapat dikaitkan dengan alat teknologi yang memfasilitasi elaborasi peta konsep, peta pikiran dan diagram V Gowin.
3.      Software untuk memvisualisasikan sistem dan fenomena (animasi komputer)
Animasi komputer ini  terdiri dari alat yang memungkinkan pengguna untuk memvisualisasikan model. Oleh karena itu, pengguna tidak dapat mencoba memodifikasi  dengan tujuan untuk menganalisis bagaimana variabel-variabel mempengaruhi fenomena yang divisualisasikan. Sebaliknya, urutan peristiwa yang diamati  telah ditentukan oleh perancang, yang sebelumnya memutuskan model atau ide yang ingin dieksplisitkan sesuai dengan yang ia inginkan. Pengguna  hanya dapat mengamati dan berusaha menafsirkan model ini.
4.      Software untuk memvisualisasikan dan berinteraksi dengan sistem dan fenomena (simulasi komputer, laboratorium virtual)
Aplikasi ini memungkinkan visualisasi proses atau sistem. Simulasi komputer dan laboratorium virtual memungkinkan mewakili sistem tertentu atau konteks di mana prosedur eksperimental atau fenomena terjadi, dengan menggunakan bahasa tertentu (grafik, teks, aljabar, diagram, dll).
5.      Komputasi alat pemodelan
Saat ini,  pemodelan dalam pembelajaran telah menjadi sering dilaksanakan dalam penelitian ilmu pendidikan, menunjukkan  fakta bahwa pembelajaran lebih bermakna
6.      VBL (Laboratorium Berbasis Video)
Aplikasi ini memungkinkan memutar video pada  komputer tentang sesuatu yang  direkam sebelumnya, dan dipilih posisi objek di sepanjang gerakan. Bahkan visualisasi gerak tersebut dapat dilihat dalam  skala jarak dan waktu.  VBL ini membantu  siswa dalam merekam peristiwa sebagai salah satu upaya meningkatkan  pemahaman siswa tentang grafik fisika . 
7.      Data-logging sistem dan MBL (Microcomputer-Based Laboratory)
Sistem ini terdiri dari sensor yang dapat dihubungkan ke komputer melalui antarmuka eksternal atau internal, yang merupakan perangkat untuk mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital.
Dalam memanfaatkan ICT, pembelajaran inkuiri perlu diterapkan. Siswa hendaknya didorong untuk berusaha untuk menemukan fenomena-fenomena baru berdasarkan pengetahuan dasar yang telah dimiliki. Sejauh siswa mampu memanfaatkan ICT guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Tetapi jika siswa masih belum mengenal ICT secara memadai, guru perlu memberikan bimbingan agar kerja siswa dalam memanfaatkan dapat terlaksana dengan baik.
Pembelajaran dengan pedagogis harus dirancang secara kontekstual, maksudnya pembelajaran harus berdasarkan konteks atau kenyataan yang benar-benar terjadi di lapangan. Melalui pendekatan kontekstual ini pengetahuan secara konkret tentang sesuatu yang dipelajari benar-benar telah dikenal, dilihat, dialami, dan dirasakan oleh siswa. Ini akan akan sangat membantu siswa dalam membangun pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan awal yang telah dikuasainya.

Tidak ada komentar: