PENDAHULUAN
Menurut Zaini model pembelajaran adalah
pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk
mencapai suatu tujuan pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru
dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah
satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk meningkatkan
kemampuan siswa selama belajar.
Dengan pemilihan metode, strategi,
pendekatan, serta teknik pembelajaran, diharapkan adanya perubahan dari mengingat
(memorizing) atau menghafal (rote learning) ke arah berpikir (thinking) dan
pemahaman (understanding), dari model ceramah ke pendekatan discovery learning
atau inquiry learning, dari belajar individual ke kooperatif, serta dari
subject centered ke learner centered atau terkonstruksinya pengetahuan siswa.
Perkembangan di bidang Information and Comunication technology (ICT)
saat ini sangat pesat dan berpengaruh sangat signifikan terhadap pribadi maupun
komunitas, segala aktivitas, kehidupan, cara kerja, metode belajar, gaya hidup
maupun cara berpikir. Oleh karena itu, pemanfaatan ICT harus diperkenalkan
kepada siswa agar mereka mempunyai bekal pengetahuan dan pengalaman yang
memadai untuk bisa menerapkan dan menggunakannya dalam kegiatan belajar, bekerja
serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari, bahkan bisa juga dikembangkan
menjadi kegiatan wira usaha.
Manusia secara berkelanjutan membutuhkan pemahaman dan pengalaman
agar bisa memanfaatkan ICT secara optimal dalam menghadapi tantangan
perkembangan zaman dan menyadari implikasinya bagi pribadi maupun masyarakat.
Siswa yang telah mengikuti dan memahami serta mempraktekkan ICT akan memiliki
kapasitas dan kepercayaan diri untuk memahami berbagai ICT dan menggunakannya
secara efektif. Selain dampak positif, siswa mampu memahami dampak negatif, dan
keterbatasan ICT, serta mampu memanfaatkan ICT untuk mendukung proses
pembelajaran dan memanfatkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semakin banyaknya situs pertemanan seperti facebook, twitter, friendster, dan
myspace membuat komunikasi dan saling bertukar informasi semakin mudah.
Belum lagi semakin menjamurnya tempat membuat blog gratis di internet seperti wordpress, blogspot, livejurnal,
dan multiply. Membuat kita
dituntut bukan hanya mampu mencari dan memanfaatkan informasi saja, tetapi juga
mampu menciptakan informasi di internet melalui blog yang kita kelola dan terupdate dengan baik. Di sanalah muncul
kreativitas menulis yang membuat orang lain mendapatkan manfaat dari tulisan
yang kita buat. Namun sayangnya, kebiasaan menulis dan membaca belum menjadi
budaya masyarakat Indonesia, termasuk guru dan siswa di sekolah. Para guru ICT
dituntut agar para peserta didiknya mampu memanfaatkan ICT untuk mengembangkan
kreativitas menulis.
Pendidikan sebagai pondasi pembangunan suatu bangsa memerlukan
pembahuruan-pembaharuan sesuai dengan tuntutan zaman. Keberhasilan dalam
pendidikan selalu berhubungan erat dengan kemajuan suatu bangsa yang berdampak
meningkatnya kesejahteraan kehidupan masyarakat. Pada era teknologi tinggi (high technology) perkembangan dan transformasi ilmu
berjalan begitu cepat. Akibatnya, sistem pendidikan konvensional tidak akan
mampu lagi mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Pendekatan-pendekatan
modern dalam proses pengajaran tidak akan banyak membantu untuk mengejar
perkembangan ilmu dan teknologi jika sistem pendidikan masih dilakukan secara
konvensional.
Keperluan akan penguasaan ICT telah diantisipasi oleh pemerintah
dalam hal ini oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dengan
dimasukkannya kurikulum ICT dalam kurikulum 2004 dan sekarang Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) mulai dari pendidikan dasar sampai ke perguruan
tinggi. Diharapkan dengan diimplementasikannya kurikulum ICT ini akan
meningkatkan kualitas proses pengajaran, kualitas penilaian kemajuan siswa, dan
kualitas administrasi sekolah.
Adanya manajemen berbasis sekolah memungkinkan setiap sekolah untuk
mengembangkan dan mengaplikasikan ICT yang disesuaikan dengan tuntuntan zaman
dan kemampuan/daya dukung sekolah yang bersangkutan. Munculnya berbagai hardware dan software-software baru sekarang ini sangat
membantu guru dalam menyampaikan bahan ajarnya. Permasalahannya adalah, apakah
para guru yang merupakan garda terdepan di sekolah telah memanfaatkan ICT
dengan optimal. Dan bagaimanakah mengaplikasikan ICT dalam pembelajaran di
sekolah.
A. Pemanfaatan ICT dalam Model Pembelajaran Inkuiri
Kata inkuiri berasal dari bahasa
inggris yaitu inquiry yang berarti pertanyaan atau penyelidikan. Metode
pembelajaran inkiri ini di kembangkan pertama kali oleh Richard Suchman pada
tahun 1962. Awalnya ia menginginkan agar siswa-siswanya aktif bertanya tentang
mengapa suatu peristiwa itu terjadi. Kemudian ia mengajarkan pada siswanya
tersebut mengenai prosedur dan menggunakan organisasi pengetahuan dan
prinsip-prinsip umum. Dilanjutkan siswa melakukan kegiatan, mengumpulkan serta
menganalisa data, sampai akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.
Pembelajaran
berbasis inkuiri dilakukan dengan lima tahapan, yaitu :
1. Penyajian masalahatau mengahadapkan
siswa pada pemrmasalahan.
Pada tahap ini guru menyatakan situasi masalah dan
menjelaskan prosedur inkuiri kepada siswa.
2. Pengumpulan dan verivikasi data.
Tahap ini siswa mengumpulkan informasi tentang peristiwa
yang mereka lihat atau alami, dan kemudian membuktikannya.
3. Eksperimen dan mengumpulkan data.
Pada tahap ini siswa melakukan eksperimen yang mempunyai dua
fungsi yaitu eksplorasi dan pengujian langsung.
Eksplorasi berarti mengubah sesuatu untuk melihat apakah
yang akan terjadi, dan tidak memerlukan suatu teoriatau hipotesis tetapi boleh
menggunakan ide-ide untuk terjdinya suatu teori. Sedangkan pengujian langsung
berlaku ketika siswa menguji coba suatu tori atau hipotesis.
4. Merumuskan penjelasan.
Tahap ini seorang guru mengajak siswanya untuk mengolah data
dan merumuskan suatu penjelasan. Beberapa diantara siswa akan menemui kesulitan
dalam mengemukakan informasi yang mereka peroleh untuk memberikan uraian yang
jelas. Mereka dapat memberikan penjelasan yang tidak mendetail.
5. Tahapan terakhir yaitu mengadakan
analisis tentang proses inkuiri.
Pada tahap kelima ini siswa diminta untuk menganalisis
pola-pola penemuan mere. Siswa boleh menentukan pertanyaan yang lebih efektif,
pertanyaan yang produktif, ataupun yang tidak. Atau tipe informasi yang mereka
butuhkan dan yang tidak diperoleh.
Tujuan umum dari pembelajaran
berbasis inkuiri ini adalah untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan
berpikir intelektual seperti mengajukan pertanyaan dan keterampilan menemukan
jawaban yang berawal dari keingin tahuan mereka.
Pembelajaran berbasis inkuiri
melibatkan siswa terlibat secara mental maupun fisik unutuk memecahkan
permasalahan yang diberikan oleh guru. Keterlibatan dalam pembelajaran
mengandung makana proses kemampuan dan sikap yang member kesempatan untuk
mencari pemecahan pada pertanyaan-pertanyaan dan isu-isu ketika membangun
pengetahuan baru. Dengan demikian siswa akan terbiasa bersikap
seperti sikap ilmuan sains yang selalu ingin tahu, teliti, tekun, dan kreatif.
Pembelajaran berbasis inkuiri memberikan banyak menfaat yang banyak bagi siswa,
diantaranya :
1. Pendekatan inkuiri meningkatkan
potensi intelektual siswa. Hal ini dikarenakan siswa diberikan kesempatan untuk
mencari dan menentukan keteraturan hal-hal yang berhuungan dengan pengamatan
dan pengalaman sendiri.
2. Siswa memperoleh suatu kepuasan
intelektual yang dating dari dalam karena berhasil dalam penemuannya.
3. Siswa dapat belajar bagaimana
melakukan penemuan, hanya melaluai proses melakukan penemuan itu sendiri.
4. Belajar berbasis inkuiri
memperpanjang proses ingatan atau dengan kata lain, hal-hal yang dipelajari
melalui inkuiri lebih lama dapat diingat.
Manfaat-manfaat dari pembelajaran berbasis inkuiri ini dapat
lebih dimaksimalkan lagi. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan
pengguanaan ICT (Information and
Comunication Technology).
Berbagai jenis ICT dapat dimanfaaatkan guru dalam
pembelajaran di kelas. Guru memiliki peran penting dalam memilih ICT yang
tepat dalam pembelajaran. Tetapi sering kali guru menggunakan ICT hanya
sebagai pendukung atau pelengkap ketika mengadakan ulangan/praktik di kelas
umum, daripada menggunakan sebagai alat yang memungkinkan merancang isi,
tujuan, kegiatan, dan pendekatan pedagogis itu sendiri .
Secara umum disepakati bahwa pendidikan ICT harus dipilih
dengan menyesuaikan manfaat dan relevansi dalam pembelajaran tertentu,
dan bukan hanya menarik secara visual belaka. Dari konsep ini penilaian
dan seleksi sumber daya teknologi pendidikan harus perlu dilakukan agar
benar-benar mendukung keberhasilan pembelajaran.
Terdapat banyak sekali perangkat ICT di sekiar kita,
diantaranya computer (PC), printer, LCD projector, internet, intranet,
televise, radio, handphone. Selain hardware, ICT juga mencakup perangkat
software atau perangkat lunak seprti Operating System (OS), aplikasi, ataupun
konten.
Perangkat
lunak yang dapat dipertimbangkan untuk digunakan dalam pembelajaran antara lain
:
1. Software
yang memungkinkan guru untuk merancang tugas interaktif
Dengan menggunakan aplikasi ini, guru dapat membuat
berbagai jenis tugas dan latihan: pilihan ganda, isian rumpang, teka-teki
silang, pertanyaan yang cocok dengan jawaban, dan lain-lain. Tujuan dari
latihan ini adalah bahwa siswa mengasosiasikan sebuah jawaban yang benar untuk
pertanyaan tertentu. Untuk dapat menemukan jawaban yang benar dari
pertanyaan tidak berarti memahami secara mendalam beberapa konsep atau model.
Software ini tepat untuk pembelajaran yang hanya menuntut siswa untuk mampu
menghafal.
2. Software
untuk mewakili dan mengatur pengetahuan
Meskipun perangkat lunak semacam ini tidak secara khusus
dirancang untuk mengajar dan belajar ilmu pengetahuan, tetapi dapat
dimanfaatkan untuk pembelajaran. Program aplikasi ini berguna untuk
mendukung pemahaman dan pembelajaran. Aplikasi ini dapat membantu siswa untuk
menyadari struktur pengetahuan mereka sendiri, yang memungkinkan mereka untuk
membangun hubungan antara sumber informasi yang berbeda. Tujuan ini dapat
dikaitkan dengan alat teknologi yang memfasilitasi elaborasi peta konsep, peta
pikiran dan diagram V Gowin.
3. Software
untuk memvisualisasikan sistem dan fenomena (animasi komputer)
Animasi komputer ini terdiri
dari alat yang memungkinkan pengguna untuk memvisualisasikan model. Oleh karena
itu, pengguna tidak dapat mencoba memodifikasi dengan tujuan untuk
menganalisis bagaimana variabel-variabel mempengaruhi fenomena yang
divisualisasikan. Sebaliknya, urutan peristiwa yang diamati telah
ditentukan oleh perancang, yang sebelumnya memutuskan model atau ide yang ingin
dieksplisitkan sesuai dengan yang ia inginkan. Pengguna hanya dapat
mengamati dan berusaha menafsirkan model ini.
4. Software
untuk memvisualisasikan dan berinteraksi dengan sistem dan fenomena (simulasi
komputer, laboratorium virtual)
Aplikasi ini memungkinkan visualisasi
proses atau sistem. Simulasi komputer dan laboratorium virtual memungkinkan
mewakili sistem tertentu atau konteks di mana prosedur eksperimental atau fenomena
terjadi, dengan menggunakan bahasa tertentu (grafik, teks, aljabar, diagram,
dll).
5. Komputasi
alat pemodelan
Saat ini, pemodelan dalam pembelajaran telah menjadi
sering dilaksanakan dalam penelitian ilmu pendidikan, menunjukkan fakta
bahwa pembelajaran lebih bermakna
6. VBL
(Laboratorium Berbasis Video)
Aplikasi ini memungkinkan memutar video pada komputer
tentang sesuatu yang direkam sebelumnya, dan dipilih posisi objek di
sepanjang gerakan. Bahkan visualisasi gerak tersebut dapat dilihat dalam skala
jarak dan waktu. VBL ini membantu siswa dalam merekam peristiwa
sebagai salah satu upaya meningkatkan pemahaman siswa tentang grafik
fisika .
7. Data-logging
sistem dan MBL (Microcomputer-Based Laboratory)
Sistem ini terdiri dari sensor yang
dapat dihubungkan ke komputer melalui antarmuka eksternal atau internal, yang
merupakan perangkat untuk mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital.
Dalam memanfaatkan ICT, pembelajaran
inkuiri perlu diterapkan. Siswa hendaknya didorong untuk berusaha untuk menemukan
fenomena-fenomena baru berdasarkan pengetahuan dasar yang telah dimiliki.
Sejauh siswa mampu memanfaatkan ICT guru hanya bertindak sebagai fasilitator.
Tetapi jika siswa masih belum mengenal ICT secara memadai, guru perlu
memberikan bimbingan agar kerja siswa dalam memanfaatkan dapat terlaksana
dengan baik.
Pembelajaran dengan pedagogis harus
dirancang secara kontekstual, maksudnya pembelajaran harus berdasarkan konteks
atau kenyataan yang benar-benar terjadi di lapangan. Melalui pendekatan
kontekstual ini pengetahuan secara konkret tentang sesuatu yang dipelajari
benar-benar telah dikenal, dilihat, dialami, dan dirasakan oleh siswa. Ini akan
akan sangat membantu siswa dalam membangun pengetahuan baru berdasarkan
pengetahuan awal yang telah dikuasainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar